Berpetualang Dalam Berbagai Pengalaman

Anisa Lia Salsabila: KEMANA PERGI BIDADARI ?- written by Azsya.

KEMANA PERGI BIDADARI ?- WRITTEN BY AZSYA.

Selepas isya ini, ketika sedang mencari file-file yang diperlukan untuk pembuatan proposal penelitian, kutemukan sebuah tulisan yang sangat kusuka.. afwan belum izin copas dari penulisnya secara langsung.. tapi insya Allah semoga saja beliau ikhlas.. ummi afwan.. izinnya sekarang ya^^v


KEMANA PERGI BIDADARI ?
Tidak mudah menjadi kader luar biasa yang punya kesabaran luar biasa, dan kelak menjadi
bidadari luar biasa

Kampus ini memiliki 800 orang kader. Bayangkan, bukankah ini jumlah yang sangat luar biasa, kuantitas yang mungkin membuat bangga. Di sebuah lembaga pendidikan ternama, tempat orang-orang cerdas menuntut ilmu. Jumlah yang fantastis. Dan bidadari, kau pastilah salah satu dari mereka. Namun, entah mengapa di ladang amal tak kulihat kepak sayapmu. Entah mengapa di medan jihad hanya segelintir bidadari yang melaju dibaris terdepan. Berdarah-darah, dan sangat kesepian. Mereka sendirian di tengah banyak bidadari. Ukhti, mujahidah, bidadari sholehah, kemana engkau pergi?

" Hampir datang masanya umat-umat lain memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang yang rakus memperebutkan sebuah hidangan. " Para sahabat bertanya’" Adakah jumlah kita sedikit pada waktu itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, " Tidak. Bahkan kamu banya. Tetapi kalian seperti buih yang terapung. Alloh menarik rasa takut kepadamu dari dada musuh-musuhmu dan akan menanamkan dihatimu " Al-Wahn". Mereka bertanya, " Apa al-Wahn itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, " Cinta dunia dan takut mati." ( H.R.Ahmad dan Abu Dawud )

Bidadari, dalam malam-malam sunyiku aku senantiasa cemas dan takut kita tak lebih generasi buih. Banyak namun tidak punya kekuatan apapun. Tak punya kekuatan untuk sekedar melawan arus atau menghadang gelombang. Menjadi buih adalah menjadi bukan siapa-siapa, buih hanya akan mengikuti kemana air mengalir dan ombak menghempas. Generasi Buih, phuih betapa sering kita tertipu dengan jumlah yang banyak. Betapa sering kita bangga dengan kuantitas. Bidadari andai kita mau berkaca, sedikit berintropeksi, berapa kali dalam satu minggu ini kita menghadiri syuro, berapa kali kita memenuhi janji pada saudara kita, berapa kali kita hadir dalam kajian, berapa kali kita taat terhadap qiyadah kita. Amal apa yang sudah kita lakukan minggu ini? Berapa banyak membawa kemaslahatan bagi umat?

Bidadari mungkin kau bisa membantuku menjawab, satu pertanyaan klasik, "katanya ikhwah banyak, tapi kemana, kenapa amanah jatuhnya pada orang yang sama???" Bertahun-tahun pertanyaan itu selalu kudengar. Apakah rangkaian waktu tak membuat kita makin cerdas menemukan jawabnya? Entahlah ukhti, aku sendiri kerap tak tahu jawabnya. Bidadari, kemanakah engkau pergi ?

Aku teringat Perang Badar Kubro, bulan Ramadhan tahun 2 hijriyah. Saat 319 orang mampu mengalahkan seribu orang pasukan lengkap dengan kondisi mental tidak siap untuk berperang. Namun bidadari, jumlah ternyata tak menjadi jaminan. Senandung Para Mujahid, tafsir surat al-anfal menggambarkan hal tersebut dengan begitu jelas.
"…dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." ( Q.S al Anfal : 10 ).

Para sahabat dapat mengetahui dengan jelas bahwa kemenangan dapat tercapai bukan karena jumlah pasukan yang banyak, persenjataan yang lengkap, dana peperangan yang melimpah atau perbekalan yang cukup. Namun kemenangan amat dtentukan oleh faktor menyatunya hati dengan kekuatan Allah yang takkan dapat dihadapi oleh kekuatan manusia manapun.Sungguh luar biasa.

Bidadari, sudahkah kita menjadi barisan orang yang sedikit itu? Yang memiliki tsiqohbillah yang begitu dahsyat hingga mampu mengalahkan kekuatan dari manusia serta makar apapun. Ataukah kita hanya puas duduk dibangku penonton, melihat saudara kita berjuang, sedikit peduli atau sama sekali tidak mau perduli? Ataukah kita hanya disibukkan dengan akademis kita, mengorbankan saudara-saudara kita untuk memegang amanah berlipat ganda di pundaknya karena distribusi amanah yang tidak merata. Ah, bidadari ternyata betapa sering kita dzalim pada saudara kita…. Pernahkah kita bertanya, " adakah yang bisa saya bantu ukhti ?" atau mungkin kita yang sering kali mengecewakannya karena sms ta’limatnya seringkali tak ubah angin lalu. Bidadari, katanya kita aktivis, tapi…………..entahlah, kemana engkau pergi ?

Bidadari, aku faham tak mungkin menyalahkan siapapun, karena kesalahan bisa muncul dari sudut mana saja dari para praktisi da’wah. Namun menjadikannya sebuah keluhpun takkan menjadi satu kebaikan yang solutif. Aku hanya ingin berbagi denganmu, saat berhadapan dengan kenyataan dari 800 kader hanya satu per limanya saja yang punya militansi dan amal nyata di medan jihad. Akan aku biarkan artikel ini sampai pada titik intropeksi kita. Kemanakah kita pergi bidadari? Jangan-jangan kita merasa sudah kemana-mana, padahal belum selangkahpun kita beranjak dari tempat kita. Ukhti, sungguh ironis bila saudara kita yang memikul beban amanah begitu besar akhirnya lepas dari barisan karena tak sanggup lagi menanggungnya. Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya, kemana kita saat saudara kita membutuhkan bantuan kita? Kemana kita saat akademis saudara kita merosot karena beban da’wah yang dipikulnya? Kemana kita saat keputusan qiyadah untuk menempatkan orang-orang soleh di kepemimpinan harus diperjuangkan? Kemana kita, yang kerap bangga dengan lebel Aktivis kita, namun kontribusi yang teramat minim? Ya ukhti, kemanakah kita akan melangkah ? Jika tidak dijalanNya? Kemanakah kita akan berjuang, jika tidak dimedan jihadNya?

Bidadari, sungguh kekuatanmu lebih besar dari yang kau pikirkan. Namun sekali-kali bukan da’wah ini yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan da’wah. Kereta da’wah ini akan terus melaju dengan atau tanpa kita. Dien ini, da’wah ini bukan waktu sisa kita .Tapi justru kehidupan kita…

Bidadari, semoga saja waktu kita yang sedikit itu dapat menjadi kifarat bagi kita, menjadi berkah dan kemashlahatan bagi umat ini. Sungguh aku berharap bisa bersamamu mencari solusi atau semua kondisi klasik ini. Berjuang bersamamu adalah keindahan dan kebahagiaan tersendiri. Bidadari, tanpamu 100 tak lagi seratus, tapi hanya 99 saja. Tanpamu bagaikan tuts keyboard yang rusak di salah satu hurufnya. Kehadiranmu menjadi sangat penting, andai kau faham visi perjuangan ini.

Bidadari, semoga kau tak lagi pergi, kecuali untuk perjalanan da’wahmu…. sungguh berjuang bersamamu adalah masa-masa luar biasa. Saat kepak sayap mu memberikan energi besar dalam perjuangan ini. Saat senyum dan hadirmu meluluhkan segala keluh dalam lisan ini. Saat gerak langkahmu menjadi genderang jihad tuk senantiasa bergerak ke medan jihad. Maka ukhti bidadari kemana engkau pergi ???

Wallahu’alam bishawab.

Azsya
Yang senantiasa bertanya kemana pergi bidadari?
Bidadari, semoga kita tak menjadi generasi buih.. Ayunkanlah langkahmu, bergeraklah, karena diam bisa mematikan.

disadur dari tulisan Asya dg sedikiiiiit perubahan..
Bidadari Luar Biasa
Part VI_ Tuesday, 27 March 2007_media-itsar.blogspot.com


Anisa Lia Salsabila

CATATAN PERJALANAN SEORANG DOKTER INDONESIA DI GAZA#2 ~ DARI KAIRO MENUJU RAFAH GATE

Bismillaahirrahmaanirrahiim



Tulisan ini adalah kisah nyata dari seorang dokter dari Bandung, Dr.Dadang Rukanta yang tergabung direlawan Tim Bulan Sabit Merah Indonesia saat beliau mengunjungi Gaza Januari-Februari 2009. Hari ini tepat setahun Israel menggempur Gaza melalui darat, laut dan udara dalam operasi "Cast Lead" yang menggemparkan dunia itu. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik

Catatan sebelumnya: http://www.facebook.com/Khalavf?v=app_2347471856&ref=profile

Dari Kairo Menuju Rafah Gate: Gerbang Keruntuhan Ukhuwah Islamiyah



Rombongan yang tampak agak lelah karena perjalanan, menmbus dinginnya kota Kairo di pagi hari. Suasana kota masih tampak lenggang dan sepi. Sekilas Kairo seperti kota modern dengan jalan laying yang bertingkat lebar dan beberapa gedung tinggi. Tetapi gedung-gedung pencakar langitnya masih kalah dengan di Jakarta, dan lagi terasa lebih berdebu disbanding di Jakarta, mungkin karena disini memang negeri padang pasir. Kami juga melewati sungai nil yang dingin dan tenang, sungai yang menjadi nadi kehidupan warga Mesir selama jutaan tahun. Patut diacungi jempol sungat yang sangat lebar dan banyak cabangnya ini terlihat masih bersih tanpa sampah, jauh berbeda dengan sungai ciliwung di Jakarta yang kotor dengan sampah . Katanya memang kebersihan sungai sangat di jaga karena sungai ini jantung kehidupan warga mesir selama jutaan tahun.

Sampai di wisma yang terletak di daerah Nasr City-jadi masih di tengah kota- Hari masih pagi sekitar pukul 8an, kami sudah dinanti beberapa ikhwan relawan dari mahasiwa azhar. Barang-barang kami kuplkan di dekat lobi, kecuali barang pribadi di simpan di kamar masing-masing . Setiap kamar dihuni dua orang. Kami sudah disiapkan sarapan pagi, makanan dan minuman masakan Indonesia. Selepas sarapan tim dipersilakan untuk istirahat dan bebenah diri tetapi harus tetap siap berangkat setiap saat karena rencana bisa saja berubah. Dijadwalkan akan berangkat sore ini atau jam 9 malam ini, jadi kalau di Jakarta sekitar jam 2 dini hari.

Berjalannya waktu tidak terasa hari itu, tahu-tahu sudah menjelang maghrib. Kami shalat di masjid dekat Wisma yang hanya berjarak sekitar 40 meter. Shalat jama’ qashar . Ba’da Isya ada kabar keberangkatan di tunda ke eso pagi jam 9 ,karena ambulan yang akan kami bawa belum selesai. Jadi malam itu kami bisa istirahat dan menyesuaikan diri dengan waktu di Kairo. Yang jelas hari terasa dingin sehingga kami harus memakai baju beberapa rangkap. Untuk di Gaza karena suhu lebih dingin dari Kairo, kami dibekali baju dalam yang sering disebut baju monyet atau baju koboi, yang dipakai sebagai baju dalaman sebelum memakai baju luar. Untuk melemaskan otot beberapa dari kami berjalan-jalan seputar wisma melihat-lihat sudut kota Kairo yang rata-rata memang baru pertamakali menjejakan kami di kota tua ini.
Pagi hari kami terbangun menjelang subuh, beberapa sempat shalat malam sebelum subuh berjamaah di masjid. Udara sangat dingin ketika keluar wisma menuju masjid suhu sekitar 12 derajat. Shalat subuh pertamakali di masjid Kairo terasa berbeda, dengan bacaan surat yang nyaris tapa irama seperti di tanah air biasa dilakukan dan juga bacaan dan sujud yang panjang, tetapi semua itu terasa nikmat dan biasa saja bagi saya. Mungkin karena mulai adaptasi atas kebiasaan penduduk negeri ini atau juga mungkin karena semangat dan kegembiraan bisa menginjak benua afrika dan akan menlakukan suatu jihad membantu ummat muslim yang tertindas.




Lepas sarapan pagi, nasi kuning dan telor dadar, dan minum teh hangat kami berbenah memasukan bawaan kami ke mobil yang kemarin membawa kami dari bandara. Rencananya kami akan menjemput ambulan kemudian berangkat beriringan menuju perbatasan Raafah. Hari itu kami akan mencoba langsung masuk Gaza. Diperkirakan kami akan tiba di Raafah lepas dzuhur.
Proses pengambilan ambulan ada sedikit miskomunikasi. Ambulan yang tadinya akan diambil di Markas Hilal Ahmar (Bulan Sabit Merah) Egypt ternyata ada di Free Zone yan merupakan daerah yang diperuntukan untuk barang-barang yang belum jelas tujuannya. Maka kami menuju Free zone yang berada di pinggiran kota Kairo. Sampai disana, Alhamdulillah mobil ambulan sudah ada dan sudah selesai ditulisi sesuai permintaan kami, tertulis “Donation for Palestina people from Indonesian Red Crescent and Indonesian people” Ada dua ambulan jenis Toyota Hijet ukuran besar dengan atap yang lebih tinggi. Perlengkapannya merupakan perlengkapan standar evakuasi pasen dengan kapasitas dua pasen, satu brankar untuk satu pasen dan satu kursi untuk pasien duduk. Ada Oksigen dan salurannya dan satu tool box berisi alat-alat pemeriksaan sederhana.

Setelah menunggu anggota tim yang lain yang menggunakan mobil kecil, kami berangkat beriringan, ambulan, minibus dan dua mobil sedan kecil yang berisi anggota tim ditambah karyawan KBRI dan Ikhwan Mahasiswa Azhar 5 orang yang akan bertindak sebagai mutarjim (penerjemah), 3 orang diantaranya akan turut kami masuk Gaza, sehingga tim yang akan masuk Gaza sebanyak 18 orang. Skenario tim masuk Gaza seperti yang sudah dijelaskan dalam briefing di wisma, ketua tim di Kairo adalah Ikhwan Aji, yang merupakan mahasiswa Azhar yang baru menyelesaikan S1 nya. Angggota tim terdiri dari 4 mahasiswa, Salim, Arif, Haris, dan Rudi, semuanya relawan mahasiswa azhar, tiga yang disebut pertama kali yang akan ikut kami masuk kota Gaza.




Perjalanan kami menembus dinginnya kota Kairo di pagi hari berjalan lancar, kami hanya berhenti di toko di pingir kota Kairo untuk membeli beberapa bekal makanan untuk dijalan, setelah itu rombongan berjalan nonstop menuju perbatasan Raafah. Rute perjalanan sebenarnya sederhana saja, dari Kairo menuju Ismailiyah untuk menyeberang terusan Suez, kemudian menembus Gurun Sinai menuju kota terdekat perbatasan Raafah, Kota El Aris yang berjarak sekitar 40 km dari perbatasan Raafah dan setelah itu menuju Raafah. Perjalanan menuju penyebrangan terusan suez cukup menyenangkan karena kita bisa ,melihat beberapa pemukiman penduduk dan beberapa lahan pertanian yang dikelola secara modern. Jejeran kota yang dilewati masih cukup padat sehingga tidak terlelu melewati area kosong yang kadang membosankan.

Melintasi terusan Suez yang terkenal itu kami mengunakan jalan yang melintasi jembatan sangat panjang yang disebut jembatan perdamaian Gamal Abdul Naser. Panjangnya sekitar 3 km konon kabarnya merupakan jembatan yang dibangun atas kerjasama dengan pemerintah Jepang. Dari sejak di Kairo perjalan beberapa kali berhenti karena ada check point pemeriksaan dokumen oleh tentara Mesir. Satu hal yang menguntungkan saat pemeriksaan di check point adalah tim kami merupakan kerjasama dengan Hilal Ahmar di Mesir yang diketuai Ibu Husni Mubarak, jadi pemeriksaan tidak terlalu bertele-tele, bahkan dibeberapa check point hanya lewat saja begitu disampaikan tim dokter dari Hilal Ahmar. Memang di badan mobil kami tempelkan stiker lambang Hilal Ahmar Mesir. Ada sekitar tigabelas check point yang prosedurnya sama saja, menanyakan dari mana mau kemana dan melihat dokumen, kadang melihat paspor. Dokumen surat pengantar memang kami siapkan di sepan sedangkan paspor siap di masing-masing tim.




(Bersambung -> Catatan Perjalanan #3)

M. K. Ziyanulhaq

SECERCAH CAHAYA HARI INI...

Maha suci Allah yang menguasai segala kerajaan dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.. Yang menciptakan mati dari yang hidup untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa dan Maha Pengampun. Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi padnangan(mu) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.. (Al-Mulk: 1-4)

Kau ciptakan dan Kau atur dunia ini dalam kesinergisan yang luar biasa bagaikan harmoni yang sangat indah.. Kau ciptakan Bumi dan planet-planetnya berputar sesuai porosnya masing-masing.. semuanya berada dalam lintasanya masing-masing.. tidak ada yang bertabrakan satu sama lain.. semuanya seirama bergerak dan berevolusi mengelilingi Sumber energi dan berotasi terhadap porosnya masing2... semuanya demi terciptanya keteraturan...

Sepanjang waktu kumandang adzan senantiasa terdengar diseantero penjuru dunia... itu semua dikarenakan salah satu bentuk kuasaMu dalam mengatur perputarn Bumi ini agar senantiasa berotasi dan berevolusi sehingga apabila di suatu wilayah telah selesai dikumandangkan, maka disambung dengan adzan di wilayah lainnya... seperti layaknya irama yang saling bersahut-sahutan.. tanpa henti sekejap pun... tanpa putus sekalipun... lantas apakah mata ini masih buta dengan semua ini???
Berapa ratus detik yang telah kulalui tanpa mengingatMu.. tanpa merasa diawasi sedetikpun... sehingga berbuat seenaknya seolah-olah waktu yang terlewatkan takkan pernah diminta pertanggungjawabannya sedetikpun.. berapa banyak waktu yang tak kugunakan dengan baik untuk sekedar mengulang dan membaca ayat-ayat cinta dariMu.. dengan alasan banyaknya kesibukan dunia yang menyita waktuku.. yaa Ghafar... Sementara ada saudara-saudara kami yang berada dalam keadaan terjepit dalam keadaan terhimpit dimana bom dan peluru-peluru musuh-musuhMu yang senantiasa mengintai nyawa mereka, yang senantiasa siap menembus kulit-kulit mereka.. tapi sedetik pun mereka tidak gentar lalu menyerah dengan keadaan, bahkan banyak diantara mereka yang mampu menjadi para penghafal Qur’an... Yaa Rabb... lantas apa yang sudah kulakukan selama ini?? Dengan banyaknya waktu luang yang kumiliki??

Selepas magrib ini, entah mengapa teringat saat-saat berada dalam lingkungan saat pertama mengenal da’wah.. dahulu, setiap sepulang sekolah bukanlah pemandangan yang aneh jika kulihat sekerumunan anak berseragam putih-biru berada dalam lingkarannya masing-masing dengan kakak mentornya masing-masing.. semuanya sibuk dengan agendanya.. ada yang berbincang dengan temannya.. ada yang mentoring dan semuanya sibuk mendengarkan perkataan kakak mentornya kemudian sesekali mengutarakan pendapatnya.. semuanya sibuk berusaha mencari dan mendapatkan perhatian kakak mentornya... dan setiap bulan suci itu tiba.. dimana dalam penanggalan Qomariah mendapat gelar bulan paling mulia tiba, ada semacam rutinitas yang diadakan oleh DKM sekolah untuk mengadakan acara semacam Sanlat (pesantren kilat). Acara yang diselenggarakan terbuka untuk umum sedangkan beberapa anak diberi kepercayaan untuk mengisi acara tersebut dan sesekali pembinanya yang statusnya saat itu masih mahasiswa mengisi beberapa acaranya. Teringat kata-kata yang hingga saat ini masih benar-benar ku ingat dengan baik.. yang benar-benar masuk dalam alam bawah sadar*.. ada sesi acaranya tentang bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur’an, saat ditugaskan menghafal bersama-sama surat Ass-Shaff.. surat ke 61 dalam urutan di Mushaf. Saat-saat kami dicek hafalannya.. saat kakak mentornya mengecek secara berkelilig.. yaa kami di cek satu persatu... saat kami menghafal do’a-do’a yang dicontohkan kakak mentornya.. saat kami menghafal do’a Rabithoh.. menghafal do’a untuk memohon ampunan agar hati ini dibersihkan dari penyakit yang mampu merusak tali ukhuwah... dan ketika mendapatkan amanah sebagai panitia bukan berarti kami dibebaskan dari segala bentuk infak.. malah disitulah kami diberikan kesempatan lebih untuk beramal.. baik dalam bentuk materi, tenaga, dan fikiran.. itu semua karena kami dipercaya bahwa kami lebih faham jika diminta untuk “beramal”.

Jujur.. ada banyak kerinduan di dunia kampus untuk seperti itu... saat ada saudara diantara kita membutuhkan bantuan.. saat dimana sebagian uang jajan kita dibelanjakan dalam da’wah ini... saat dimana uang disaku tinggal beberapa ribu namun kemudian diinfakan semua... saat diminta beramal tanpa mempertanyakan.. saat dimana diminta pengertiannya tanpa diminta atau dituntut.. saat daurah-daurah dijadikan kebutuhan.. bukan keterpaksaan atau sekedar rutinitas tanpa ghirah dan ruh... namun, akhir akhir ini ada pertanyaan yang belum bisa terjawab.. apa yang selama ini telah ku dapatkan.. kuperoleh.. ku korbankan.. ku berikan.. ku gadaikan untuk memperoleh cintaNya??? Apa hanya dengan recehan uang ribuan itu mampu kuperoleh RidhaNya?? Apakah dengan waktu yang sedikit kuluangkan untuk agenda-agenda da’wah dan agenda-agenda tarbawi??!! Entah megapa ghirah dan kesadaran itu mulai berkurang dan terkikis sedikit-demi sedikit... yang kurasakan saat ini ada bagian besar yang hilang dalam diri.. tapi apa???!! Sungguh... sama sekali ku tak merasa rugi atau salah dalam menepaki jalan yang kupilih ini.. jalan dimana sebagaian besar orang enggan untuk memilihnya.. pilihan yang sama dimana Abu bakar, Umar, Ustman, Ali, fatimah, Mus’ab, bilal, abdurrahman bin auf dan para Assabiqunal Awalun lainnya yang menginfakkan segala yang mereka miliki untuk berada dalam jalan ini, untuk keberlangsungan da’wah ini dan kuberhapar diri ini termasuk golongan seperti mereka dan tetap istiqomah berada didalamnya...

Sesekali ku berkaca pada teman2 yang masih istiqomah berjuang membina adik-adik di SMPnya masing-masing.. mereka kokoh, bercita-cita besar, memiliki mimpi-mimpi dan target-target besar.. namun aku???? Apa yang kumiliki??? Yaa Rabb bukakan mata hatiku agar mampu mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini....

* Muslim itu ibarat sebuah pohon yang kokoh, akarnya menghujam sampai kedasar bumi. Batangnya kokoh menjulang ke atas langit, dahan-dahannya rindang dan rimbun, dan ia menghasilkan buah yang ranum dan manis rasanya.. jika engkau akarnya maka jadilah akar yang kuat yang membuat pohon itu kokoh, jika engkau adalah batangnya maka jadilah batang yang paling kuat dan menjulang sampai ke langit, jika engkau adalah dahannya maka jadilah dedahanan yang paling rindang yang mampu manaungi orang-orang yang berteduh di bawahnya.. jika engkau adalah buah maka jadilah buah yang paling ranum dan manis rasanya..




Anisa Lia Salsabila

ALLAH TIDAK MENJANJIKAN ... (NASIHAT HASAN AL BASHRI)

Allah tidak pernah menjanjikan hari-hari kita akan berlalu tanpa sakit, berhias tawa tanpa kesedihan, berselimut matahari tanpa hujan, atau siang tanpa malam.
Tapi yang pasti, jika kita mau, Allah menjanjikan kita kekuatan untuk melalui kehidupan hari ini.
Jika kita mau, Allah menjanjikan kita dengan kasih sayangnya yang tak kenal batas dan tak pernah berhenti.
Jika kita mau, Allah memberikan pelita kepada kita untuk bisa melalui hidup ini dengan selamat.

Sahabat, janji-janji itu harus kita rengkuh.
Kita harus menapaki langkah demi langkah untuk memperoleh kekuatan yang Allah janjikan.
Agar kita dapat menuju kasih sayang Allah. Agar pelita itu bisa kita genggam.
Agar kasih sayang yang Ia janjikan bisa mengalir membasahi jiwa.


Ketuklah hati kita masing-masing
Buka dan bicaralah pada-Nya
Kesulitan dan kepahitan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
Nasihatilah jiwa, Pahami keinginannya
Agar tetap brada pada jalan Allah, betapapun keadaannya ...


Gesang Ridho Subhan

CELUPAN WARNA ILLAHI

“Celupan warna Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (QS. Al Baqarah 138)


Bagaikan kain putih yang telah terkena beberapa noda, pribadi-pribadi mukmin kemudian dicuci dengan syahadat yang mereka ikrarkan. Allah kemudian memberi warna dengan celupanNya, celupan warna dengan citarasa illahi yang Maha Tinggi. Jika sang hamba terus menjaga amalan wajibnya, kemudian ia mendekatkan diri dengan amalan sunnah dan nafilahnya, maka celupan warna itu menjadi gerak hidup yang memancarkan kemuliaan dan keagungan.

"...Tidaklah hamba-hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dibanding hal-hal yang Aku wajibkan. Dan hambaKu akan terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan nafilah, sampai Aku mencintainya. Maka, apabila aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran dimana ia mendengar dengannya. Aku akan menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya. Aku akan menjadi tangan dimana ia bertindak dengannya, dan Aku akan menjadi kaki dimana ia berjalan dengannya..." (HR Bukhari, dari Abu Hurairah)

Tentang warna warni itu? Ya. Islam tidak menghapus karakter-karakter khas dari pribadi pemeluknya yang tidak bertentangan dengan aqidah. Islam justru membingkainya menjadi kemuliaan karakter yang menyejarah. Bahkan Rasulullah mengatakan, “Khiyaarukum fil jahiliyah, khiyaarukum fil Islam... Orang terpilih kalian di masa jahiliyah akan menjadi orang terpilih pula di masa Islamnya.”

Para sahabat adalah figur-figur menarik yang penuh warna. Menggambarkan sosok mereka sebagai manusia biasa, namun ada kemuliaan yang senantiasa terukir dalam ke-biasa-annya itu.

Ada orang-orang besar dengan gelar besar. Tetapi kebesaran itu bermula dari satu prinsip yang dipegang teguh. Satu saja, kecil saja. Tetapi istiqamah. Abu Bakar Ash Shidiq. Benar, membenarkan, dan dibenarkan. Mengapa? Karena teguh untuk yakin pada apa yang berasal dari sisi Allah dan RasulNya. Maka keyakinan itu menjadi sesuatu yang sangat besar, “Andaikan iman seluruh manusia ditimbang pada suatu dacing dan iman Abu Bakar pada dacing yang lain, niscaya iman Abu Bakar lebih berat.” Subhanallah!

Umar Al-Faruq. Ia, sosok yang tak pernah menyembunyikan perasaannya. Jujur pada dirinya, jujur pada Allah, jujur pada manusia. Blak-blakkan, keras, tak kenal takut. “Bukankah kita berada diatas kebenaran? Bukankah mereka beradar diatas kebathilan? Bukankah kalau kita mati, kita masuk surga sedang mereka masuk neraka?” Maka bermulalah aksi-aksi besar kaum muslimin dari Umar, ba’dallah. Da’wah terang-terangan, show of force di Ka’bah, hijrah terang-terangan, dan gemeretaknya gigi orang kafir dan orang munafik. Ia keras. Sangat keras. Tetapi ada saat dimana ialah manusia terlembut; saat memimpin. Maka benarlah kata-kata Ibnu Mas’ud, “Islamnya Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat bagi orang beriman.”

Ustman Dzun Nurain, si pemalu berakhlak mulia. Malu tak hanya pada manusia, tetapi lebih dari itu, pada Allah. Mandinya Ustman tidak dilakukan kecuali dalam rumah yang terkunci rapat, tertutup semua lubangnya, di kamar yang terlindung dan terkunci, dalam sebuah bilik rapat di kamar itu, dan dipasang selubung kain yang tinggi. Itupun, Ustman masih tak bisa menegakkan punggung karena rasa malu. Ia selalu malu pada Allah. Ia malu, jika nikmat-nikmat Allah tak ia nafkahkan di jalanNya. Maka ribuan unta menyertai perang Tabuk. Ia malu, jika ia kenyang sementara penduduk Madinah ditimpa peceklik. Maka 1000 unta penuh muatan ia bagikan gratis. Ia malu, jika ia minum air sejuk sementara penduduk Madinah meminum air bacin. Maka dibelinyalah sumur Raumah, lalu ia wakafkan. “Tidak akan membahayakan Ustman”, sabda sang Nabi, “Apapun yang dia lakukan setelah hari ini.” Dan Ustman semakin merasa malu..

Ali yang ceria. Ceria mengajarinya keberanian untuk tidur menggantikan Rasulullah di saat teror pembunuhan mengepung kediaman beliau yang kecil. Ceria mengajarinya berlari-lari menyusur padang pasir sejauh 400 km untuk hijrah seorang diri dalam kejaran musuh. Ceria mengajarinya berolok-olok pada Amir bin Abdu Wuud, jagoan Quraisy yang menantang perang tanding dalam peristiwa Khandaq. Dan saat tubuh yang besarnya dua kali lipat dirinya itu jatuh terbelah, kaum muslimin pun bertakbir gembira. Dan ia, tetap ceria. Ceria mengajarinya untuk asyik belajar, maka ia menjadi pintu kota ilmu. Ceria -saat sakit mata- membuatnya menjadi pemegang panji penaklukan Khaibar, maka jadilah ia pemegang panji yang mencintai dan dicintai oleh Allah dan RasulNya.

Abu Dujanah memang congkak, tapi ia bingkai kecongkakannya dalam jihad menghadapi musuh-musuh Allah sehingga ia mulia dengan kecongkakannya. Ikat kepala merah, langkah yang angkuh, jalan yang penuh gaya, membuat Rasulullah berkomentar, “Allah membenci yang seperti ini kecuali dalam peperangan di jalanNya!”. Akhirnya, Abu Dujanah meraih kemulian yang ia nantikan, sambutan bidadari surga.

Ada Abu Ubaidah kepercayaan umat ini. Seperti apa orangnya? Rapi jali! Pandai mengadministrasi, cerdas dan adil. Sangat dipercaya, sampai orang-orang Romawi yang beragama Nashrani merindukannanya. Sangat dipercaya, sampai Umar kehabisan akal untuk memintanya keluar dari kota berwabah. Sangat dipercaya, maka begitu sulit mencari penggantinya mengurus Baitul Maal. Ada Az Zubair hawari Rasulullah. Sebuah potret kesetiaan. Dan Thalhah yang perwira, perisai hidup Rasulullah yang di tubuhnya ada tujuh puluh sayatan pedang, hunjaman tombak, dan tusukan anak panah. Maka jadilah ia, kata Rasulullah, seorang syahid yang masih berjalan di muka bumi.

Ada orang-orang besar dengan gelar besar. Ada Khalid, pedang Allah yang senantiasa terhunus. Maka sering, dengan kudanya ia membelah barisan musuh sendiri. Ia pedang Allah, maka tiga belas pedang patah di tangannya pada perang Mu’tah. Ia pedang Allah, yang memang hanya hafal sedikit ayat. Tetapi seluruh bagian tubuhnya yang penuh luka akan menjadi saksi dihadapan Allah, meski ia mati di ranjang. Ada Hudzaifah, pemegang rahasia-rahasia Rasulullah. Maka ialah intelejen paling gemilang dalam sejarah, yang duduk di hadapan Abu Sofyan, pemimpin musuh. Maka ketika pada Rasulullah manusia bertanya tentang amal-amal yang harus dilakukan, ia bertanya tentang laku-laku yang harus dijauhi. Ia, manusia yang lisannya tak bisa dipaksa berbicara, meski oleh Umar sahabatnya. Ia, pemegang rahasia-rahasia.

Ada lagi yang agung dalam gelar kematiannya. Hamzah penghulu syuhada, Ja’far pemilik dua sayap yang terbang kian kemari di surga, Abdullah bin Rawahah yang ranjangnya terbang menghadap Rabbnya. Sa’ad bin Mu’adz yang kenaikan ruhnya membuat ‘Arsyi Allah berguncang, dan Hanzhalah yang dimandikan malaikat.

Ada yang mulia dengan perbuatannya. Usaid bin Hudhair yang tilawahnya didengarkan malaikat, Ibnu Mas’ud yang qiraatnya seperti saat Al-Qur’an diturunkan, Abdurahman bin Auf yang diberkahi dalam shadaqah dan simpanannya, keluarga Abu Thalhah yang membuat Allah takjub, dan Ukasyah yang ingin bersentuh kulit dunia akhirat dengan Rasulullah.

Ada yang pernah berbuat dosa, tapi ia jujur! Ma'iz mengakui perzinaannya, meminta rajam untuk dirinya, sampai Rasulullah mengatakan, "Jika taubatnya dibagi untuk seluruh penduduk Madinah, niscaya mencukupi bagi mereka."

Mereka, manusia-manusia biasa yang istiqamah dengan potensi kebaikan yang dimilikinya. Kecenderungan-kecenderungan memang berbeda. Dan jadilah itu warna-warna. Ada canda yang mereka lakukan, sampai saling lempar semangka suatu ketika. Tapi periwayat hadits ini berkomentar, “Mereka adalah laki-laki dalam urusan-urusannya!” Ya, mereka tahu kapan saatnya lempar semangka, dan kapan saatnya lempar lembing untuk menegakkan agama Allah.

Alangkah indah hari-hari mereka. Mari kita berdoa, sebagai orang-orang yang datang sesudah mereka...

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hasyr 10)

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta, rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi, wahai Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang..

(Dikutip dari buku, “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”, Salim A. Fillah, dengan sedikit perubahan)


Nida Rosyidah

Fathimatuz Zahro: Maaf

MAAF

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al Baqarah : 263)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hehehe sambil jalan, kita mampir dulu ya , sebentar aja..
(jrengjengjengjengjeng…………………… jrengjrengjjengjengjeng ……………jrengjengjengjeng)
^^
Mampir ke ‘toko menjaga lidah’ dulu yaa..
“Seringkali kita lupa, sudahkah kita menjaga lidah kita?” (slogan sang toko)

Loh kok lidah? Ya iyalah, lidah itu lebih tajam daripada p-e-d-a-n-g! tuh kebayang kan pedang yang segitu tajemnya aja kalah ama lidah. Ada seorang penyair arab berkata:



“Luka karena pedang jika kamu balut maka diapun akan kembali sembuh dan akan lekang sepanjang masa luka yang diakibatkan oleh lisan”

Hmm lidah ya? Coba kamu simak kisah di bawah ini:

Salah seorang sahabat yang bernama Sofyan bin Abdullah pernah bertanya pada Rasulullah SAW: wahai Rasulullah, beritahukanlah padaku tentang satu perkara yang harus aku pegang teguh?, Lalu beliau menjawab:
Katakanlah: "Aku beriman pada Allah, kemudian beristiqomahlah"
Lalu sahabat itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang paling engkau takutkan dariku? Kemudian Rasulullah memegang lidahnya sambil berkata: “ini. Berapa banyak perselisihan yang terjadi antara dua orang teman yang diakibatkan oleh lidah, berapa banyak perceraian atau pertengkeran yang terjadi antara dua orang suami isteri yang diakibatkan oleh lidah, berapa banyak tawuran masal antara dua sekolah atau dua desa yang terjadi yang diakibatkan oleh lidah dan masih banyak lagi keburukan-keburukan lainnya yang disebabkan oleh lidah ini, entah itu berupa perkataan dusta, ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba), saksi palsu, mencela, mencerca dan lain sebagainya.”

Tuh kan, kumaha tah? Menjaga Lidah itu penting, bro! hehe

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam"

… kayaknya cukup dulu mampir ke ‘tokoh menjaga lidah’ nya, masih ada took yang perlu kita kunjungi, nanti kalau kelamaan takutnya bosan lagi.. hehehe…

Nah, ada toko di depan! Mampir dulu ya..
‘toko menjaga hati’. “Seringkali kita lupa, sudahkah kita menjaga hati kita?” (slogan sang toko)

Rasulullah SAW bersabda:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam hati itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, namun apabila ia rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa (segumpal daging itu) adalah hati"

Hadits itu menunjukkan bahwa hati adalah barometer kebaikan dan keburukan tubuh seseorang. Oleh karena itu marilah kita jaga hati kita, kita jaga sikap kita, kita jaga diri kita, kita jaga raut ekspresi wajah kita.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba itu jika melakukan satu dosa maka akan meninggalkan satu noda hitam dalam hatinya, dan jika dia bertaubat maka hatinyapun akan kembali dibersihkan, namun jika bertambah (perbuatan dosanya) maka akan bertambah (pula) noda-nodanya"
…mampir nya bentar aja ya…
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Nah, kayaknya udah cukup lisan dan hati mewakili semuanya..
Nah (juga) , dari lisan dan hati itu sudah banyak perbuatan yang kita lakukan, terutama saya sendiri. Entah sudah berapa banyak orang yang saya sakiti, entah berapa banyak orang yang saya lukai.. Entah berapa banyak dosa ini menggumpal dalam tubuh ini.. Entah hhh banyak sekali kata maaf yang belum terucapkan..

Ya akhi ya ukhti, afwan jiddan. Selama ini banyak sekali saya melakukan kesalahan, banyak sekali mungkin ucapan yang tidak mengenakan, banyak sekali prasangka yang menyakitkan, banyak sekali sikap dan perbuatan yang menggeuleuhkan.
Saya minta maaf, kawan..

Untuk orang tuaku, betapa banyak luka-luka yang menggores hatinya. Maafkan saya atas ucapan dan perbuatan yang saya lakukan selama ini.

Untuk guru-guruku, teman-teman seperjuanganku, teman-teman dekatku, saudara-saudaraku maafkan atas seringnya lidah dan hati yang lepas dari penjagaan.
Bentar lagi UN, saya minta maaf ya atas segala kesalahan..
Allahumma innaka affuwun karim tuhibbu afwan fa’fu’ana.
Jazakumullah khairan katsiraa..
^^



Fathimatuz Zahro

CATATAN PERJALANAN SEORANG DOKTER INDONESIA DI GAZA#1 ~ KEBERANGKATAN..

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tulisan ini adalah kisah nyata dari seorang dokter dari Bandung, Dr.Dadang Rukanta yang tergabung direlawan Tim Bulan Sabit Merah Indonesia saat beliau mengunjungi Gaza Januari-Februari 2009. Hari ini tepat setahun Israel menggempur Gaza melalui darat, laut dan udara dalam operasi "Cast Lead" yang menggemparkan dunia itu. Semoga ada hikmah yang bisa kita petik



Keberangkatan

Suatu yang mengejutkan ketika saya dihubungi untuk bersiap siap menjadi relawan Bulan Sabit Merah Indonesia ke Gaza Palestina yang porak poranda karena agresi Israel. Bagaimana tidak mengejutkan karena hanya dalam tiga hari dari saya mengajukan bersedia menjadi relawan sudah ada kabar akan keberangkatan, padahal saat itu untuk mendapatkan visa ke Mesir-negara yang akan menjadi pintu masuk ke Gaza- sangat sulit. Barangkali ini memang pertolongan Allah dan kemudahan yang diberikan untuk niat baik kami ini.

Kami berangkat hari sabtu tanggal 24 Januari 2009 pukul delapan malam dengan Singapore airlines. Seluruhnya kami ada 15 orang yang terdiri dari 8 orang dokter dari berbagai keahlian, Bedah Orthopaedi, Dr.Basuki Supartono dan Dr.dadang Rukanta, Bedah Umum, Dr Sahudi, Kandungan, Dr.Prita, Ahli Mata, Dr.Jamaludin, Ahli Anesthesi, Dr.Ki Agus Erick, Ahli Jiwa Dr.Fuady Yatim, dan Dokter Umum dengan avasin, Dr.Adang Sudrajat. Dua orang tenaga logistic, Pak Jalaludin dan Pak Mohamad Rudi, sedangkan 5 orang yang lain terdiri dari Baznas 2 orang dan Kispa 3 orang yang menumpang visa dgn tim BSMI. Tadinya direncanakan setelah konperesi pers di Markas BSMI pusat Jl.Dewi Sartika, tim akan dilepas oleh Menkes di Bandara Sukarno-Hatta, tetapi karena padatnya waktu Menkes yang saat itu baru tiba bandara dari tugas luar tidak sempat melepas kami. Kami melakukan boarding agak terburu-buru karena menunggu kepastian tadi. Jadinya kami dilepas sejumlah rekan wartawan yang setia mengantar keberangkatan kami. Karena terburu-buru itulah satu tas kecil berisi baju dan rompi BSMI tertinggal di Bandara.

Perjalanan dengan SQ mengharuskan transit di Bandara Changi Singapura. Kami transit sekitar tiga jam. Kami tiba di singapura sekitar pukul 11 malam waktu setempat yang lebih maju satu jam dari Jakarta. Dan kami akan terbang lagi langsung ke Kairo pukul 2 dini hari. Selama waktu transit kami manfaatkan untuk istirahat karena persiapan yang cukup melelahkan, apalagikebanyakan tim ini datang dari berbagai daerah seperti Lampung, Bandung, Surabaya dan Madura.

Tepat pukul 2.20 dini hari kami bertolak dari bandara Changi dengan tujuan langsung ke Kairo. Ini merupakan penerbangan langsung non stop selama kurang lebih 10 jam. Sudah dapat kami bayangkan akan menjadi perjalanan yang melelahkan dan panjang. Apalagi masih harus dilanjutkan dengan perjalanan darat Kairo-Raafah border dan Gaza. Perjalanan panjang ke Gaza sebenarnya baru dimulai, meski rasa lelah sudah mulai menyelimuti karena persiapan yang cukup singkat.

Selama dalam perjalanan di pesawat, kami mencoba untuk memanfaatkan waktu untuk istirahat, karena kami tahu perjalanan yang berat justru saat Kairo ke perbatasan Raafah dan saat mengusahakan bisa masuk ke Gaza lewat Raafah. Menurut informasi banyak relawan yang tertahan sampai satu minggu di perbatasan Rafah untuk bisa masuk Gaza. Alhamdulillah dengan servis yang baik dan kabin cukup nyaman kami dapat sedikit beristirahat.


Tiba di bandara Kairo hari masih pagi, sekitar pukul 6.50 waktu Kairo ini berarti pukul 11.50 waktu indonesia bagian barat, perbedaan waktunya memang cukup lebar sekitar 5 jam. Di Caro sedang musim dingin, terasa udara menusuk tubuh yang belum beradaptasi, tapi cukup nyaman karena tidak berkeringat . Disini kelembabanya sangat rendah. Kami dijemput tim dari Kairo yang merupakan para relawan mahasiswa Al Azhar yang sudah fasih berbahasa Arab. Menggunakan minibus Hijet, kami berangkat menuju wisma Nusantara tempat kami akan transit.




(Bersambung -> Catatan Perjalanan #2)
M. K. Ziyanulhaq